Senin, 05 Desember 2011

harusnya kau pilih aku (oneshoot)

Kekasihmu tak mencintai
Dirimu sepenuh hati
Dia selalu pergi
Meninggalkan kau sendiri

*

Untuk kesekian kalinya aku melihat kekasihmu bersama orang lain. Bergelayut mesra pada lengan lelaki itu.  Lalu kemana dirimu? Bukankah biasanya kau selalu mengumbar kemesraan bersama gadismu? Mengapa bukan kau yang bersama gadis yang sedari tadi menarik perhatianku? Apa dia se..ling..kuh? ah tidak! Sunggu jika itu yang terjadi, aku tak akan memaafkan gadismu itu. Mengapa dia selingkuh? Apa dia tak sadar kau benar-benar sempurna? Sampai-sampai akupun ingin memilikimu. Ups.. yatuhan, kenapa rasa ini kembali sih! Sungguh aku tak suka. Sang penulis skenario ini benar-benar jahat. Mengapa dia tak membiarkan aku bahagia bersamamu? Apa yang salah dengan cara pemikiran sang penulis? Apa yang sedang ia rasakan sampai tega membuat kisah ini? Kisah pedih yang tak akan pernah aku lupakan. Tentang aku, kamu dan dirinya.

*

“Rio.. aku mohon dengar dulu. Aku tak bermaksud apa-apa. Sungguh...” aku terus berlari mengejarnya yang semakin menjauhiku. Rio.. aku hanya ingin kau sadar, gadismu bukan perempuan baik-baik.

“Apalagi sih fy? Elo tega yah! Sembarangan aja nge-judge sivia kayak gitu. Elo mau gue putus sama sivia? Terus gue jadian sama elo? Aih cara elo murahan!” yatuhan. Apa yang barusan dia katakan? Lututku langsung lemas tak kuat menopang tubuhku. Sang prahara itu mulai muncul dan itu sangat menyakitkan! Sungguh ini lebih menyiksa dari pada aku melihatnya bermesraan dengan gadis tak tahu diri itu.

“maksud kamu apa sih yo? Aku jujur. Dan aku udah beberapa kali mergokin dia sama cowok yang sama.” Aku memegang pergelangan tangannya. Berusa menahan dia agar mendengarkan penjelasanku.

“gue gak percaya sama elo! MURAHAN!” dia membentakku dan secara kasar menyingkirkan genggaman tanganku.

“terserah elo percaya atau enggak yo! Awas kalo elo nyesel. Dan inget GUE BUKAN MURAHAN !! SALAH YA KALO GUE SUKA, CINTA, SAYANG SAMA ELO? SALAH? MULAI SEKARANG GUE BENCI RASA INI !! KENAPA SIH GUE BISA SUKA SAMA ELO? KALAU SEANDAINYA BISA, GUE LEBIH MILIH MATI DARIPADA SAKIT HATI GARA-GARA ELO !! PUAS?? HAH? ELO PUAS??”  kulihat dia terpaku ditempat. Ah.. masa bodo! Yang penting sekarang aku harus mencari tempat untuk mengeluarkan emosi ku. Tempat menangis yang paling pas, taman sekolah!

*

Mengapa kau mempertahankan
Cinta pedih menyakitkan
Kau masih saja membutuhkan dia
Membutuhkan diaaa

*

Aku terkulai lemas dibawah pohon. Tiap tetes airmataku jatuh begitu deras,  benar-benar nakal. Mengapa kau tak bisa diatur? Ayoo berhenti. Sungguh tak lucu kawan! Setiap orang memandangku aneh. pagi-pagi sudah menangis, tak punya semangat hidup sekali aku ini. Hey sobat! Taukah kalian apa yang membuatku menangis pagi ini? Yap! Kalian benar! Dia sobat, rio.
Dia benar-benar tak peduli pada ucapanku. Buktinya? Aku melihatnya tengah merangkul mesra gadis itu. Gadis munafik itu. Kalian tau? Rasanya sangat menusuk sobat! Benar-benar menyiksa. Apa sih lebihnya gadis itu? Andaikan kau tahu betapa jahatnya dia. Apa kau masih berani memanggilku murahan? Itu terlalu menyakitkan rio. Aku tak seperti yang kau kira, ternyata gadis itu benar-benar membutakanmu. Dan gadis itu yang lebih pantas kau panggil MU-RA-HAN!!

*

“pagi dear, gak biasanya datang jam segini?” rio berucap seraya merangkul sivia. ucapan rio itu sungguh membuatku tak tahan. Yatuhan! Andai kau sadar rio! Dia jahat. Dia tak mencintaimu. Dia... ah...
“pagi juga dear, emang kenapa sih kalo aku datang pagi? Salah nih?” dengan manja gadis munafik itu mengerucutkan bibirnya. Kayaknya sih ngambek, tapi apa urusanku? Peduli apa aku dengannya? Kalau bukan karena rio, aku tak mau berurusan dengannya.

Candaan mereka terus berlanjut, sampai errghh aku muak! Benar-benar muak dengan topeng gadis itu! Andai aku bisa membuktikan semuanya, andai aku bisa membongkar betapa tak tahu dirinya gadis itu, andai... ah andai sajaaa...

*

Kau harusnya memilih aku
Yang lebih mampu menyayangimu
Berada disampingmu

*

Prahara yang terjadi sangat menyesakkan sobat! Rio benar-benar telah dibutakan oleh gadis itu. Hey tuan! Bisakah kau melihat aku disini? Aku yang sangat tulus mencintaimu. Kau memang jahat Rio! Sungguh! Tapi aku tak mampu menghapus rasa ini. Rasa yang menimbulkan sensasi yang sangat aneh. Getaran-getaran halus yang terus menggelitik.  Menimbulkan hal-hal yang menyenangkan sekaligus menyesakkan dan begitu menyiksa. Tuhan, tolong bujuk sang takdir! Aku mohon! Biarkan aku bahagia bersama rio.  Aku berjanji akan terus ada untuknya, berada disampingnya, memberi semangat lewat setiap kata dan sentuhan yang aku berikan.

*

“udahlah fy, rionya aja yang bego! Kalo gue jadi elo udah gue cakar-cakar muka dia.” Aahh apa itu? Mencakar-cakar muka rio? Apa aku tak salah demgar? Awas kalau dia berani.

“hey ganteng! Awas sampai kau berani melakukan itu. Aku akan menyiksamu lebih dari itu. Sungguh!” aku menatapnya tajam. Aku tau dia bercanda. Tapi itu sangat tidak lucu disaat seperti ini. Aku tahu dia berniat menghiburku. Tapi itu sangat-sangat tidak membantu.

“santai cantik! Alvin yang ganteng dan baik hati ini gak akan melakukan itu. Urusannya polisi sih, sereeemm!” dia mengatakannya dengan mimik yang sangat lucu. Kalau aku tak bersedih, yakin aku sudah tertawa berguling-guling di tanah. Lebay yah? Tapi mimik mukanya itu sangat lucuuuu. Andai kalian bisa melihat dia, aku yakin kau akan sependapat.


*
Kau harusnya memilih aku
Tinggalkan dia
Lupakan dia
Datanglah kepadaku

*

Lantunan do’a terus ku lafalkan untuk dirimu. Dan tentunya untuk sang parahara, berharap dia cepat pergi dari susunan skenario yang telah dibuat. Dan satu lagi! aku berdo’a agar kau segera mengetahui betapa jahatnya gadis yang selalu kau banggakan itu. Apakah aku terlalu jahat berdo’a seperti itu? Ah sungguh tidak. Hey sobat! Lebih jahat mana aku dengan gadis itu? Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan. Walaupun mungkin hanya sedikit, aku sangat berharap. Berharap tuhan mengubah susunan skenario itu. Berharap tuhan menghapus beberapa bagian dari skenario itu, dibagian aku selalu menangis dan tersiksa. Yah aku hanya bisa berharap. Harapan yang memang tak mungkin terjadi. Harapan yang dilindungi kata angan. Harapan yang sangat tidak mungkin.

Ah.. iya satu hal lagi. harapan terbesarku. Harapan yang rasanya tidak mungkin terwujud. Berharap menggantikan posisi gadis itu dihatinya. Menjadi sang ratu dihati seorang lelaki seperfect rio. Harapan, harapan dan harapan. Hanya itu yang bisa membuatku sedikit lebih baik. Terus berharap dan selalu...

*

Kau tak pantas tuk disakiti
Kau pantas tuk dicintai
Bodohnya dia yang meninggalkanmu
Demi cinta yang tak pasti

*

Sivia. Nama gadis itu. Gadis yang memunculkan prahara ini. Dia yang membuat rio –dengan tega- mengataiku murahan. Gadis itu, gadis munafik. Gadis tak tahu diri. Ahh sungguh  dia gadis jahat. Segala kecaman telah meluncur dengan indah dari mulutku untuknya. Tapi percuma, karena dia pasti tak mendengar. Aku memang tak cukup berani mengatainya didepan wajah.  Bukan pengecut, tapi pasti Rio selalu membelanya. Rio yang tak mengetahui kebusukan gadis itu. Aku menghela nafas kasar, apa sih lebihnya lelaki yang bersama sivia itu? Aku yakin bila di bandingkan dengan rio dia tak ada apa-apanya. Lalu mengapa sivia memilih lelaki itu?kau jahat sivia! KAU GADIS JAHAT! Mengapa kau berpikir lelaki itu lebih baik dari Rio?

Ah.. ku harap rio segera mengetahui tentang kebusukan gadisnya. Dia  yang tega menduakan Rio dengan lelaki yang tak jelas.  Aku berdo’a, terus berdo’a agar semua terbongkar. Sebelum rio terlambat dan menyesali semuanya. Dan sebelum penyakit laknat ini memaksaku pergi dari dunia ini. Apakah tuhan jahat? Sungguh aku tak pernah berpikiran seperti  itu. Tuhan tak sejahat itu, dia hanya meminta hambanya bersabar. Membiarkan hambanya menanti hal indah itu akan tergores di barisan takdir-takdir mereka. Tuhan pasti mempunyai alasan dibalik sebuah peristiwa. Dia yang maha kuasa. Sang pemilik rahasia dibalik rahasia.

*

Ya tuhan, bila ini memang waktunya. Aku siap. Sangat siap. Semoga mereka bahagia atas kepergianku. Dan mulai saat ini, semua harapanku telah terbenam. Terbenam bersama tanah yang menutupi jasadku. Aku telah terbang bebas. Menari diatas awan. Bermain bersama peri-peri langit. Dan yang pasti, aku bisa tersenyum. Tersenyum untuk dan karenamu. Mario.

*

Astagfirullahaladzim! Ini apa sih yaaa? Gak jelas gitu. Bahasanya rada kasar yah? Gak nyambung juga deh :33  jelek, ancur, gak bangeeeeeeeeetttttttttt gitu yaaa? Aduh maap deh. Tau banget ini cerpen emang maksa. Yang nulis lagi galau soalnya. Jujur aja yaaaa ini tuh sedikit pelampiasan dari penulis labil ini. Bingung kesana-kemari membawa alamat eh maksudnya mencari solusi buat meluapkan kekesalan gue sama ‘dia’. Errr nih buat cerpen buat elo yang sukses bikin gue galau gak berujung. Sampe-sampe gue sms sana-sini buat cari solusi.

Mau say thanks dan minta maaf juga buat kakak-kakak dan adek-adek dan siapa ajaaa yang mau dengerin curhatan gak jelas gue. Mau balesin sms gue, ngeladenin sifat manja gueee. BIG THANKS, BIG KISS, BIG HUG buat kaliaaaannnnnnn :* :* {}

Okedeh segitu ajaaa dari gue yaaa, minta LIKE dan KOMENTARNYAAAA yaaaaa. Kritik masih sangat diperlukan guys. Makasih J

Salam galauers :*


Piggy’s Cheek ({})

Tidak ada komentar:

Posting Komentar