Selasa, 06 Desember 2011

Dia Malaikat? -tugas b.ind cipta cerpen-


Instrument klasik Lacrimosa milik Wolfgang Amadeus Mozart memenuhi indera pendengaranku kini memaksaku untuk mengikuti sebuah alunan yang ber- Requiem In D Minor. Mataku terpejam. Semakin menghanyutkan diriku dalam symponi-sympohi yang dihasilkan barisan tuts-tus hitam dan putih ini. Dentingan nada-nada itu menghantarkanku kepada sebuah kejadian dimasa lalu. Kejadian yang sangat tragis dan menyedihkan bila diingat. Namun, semua lebih terlihat bermakna saat dia datang dan juga menimbulkan sejuta rasa heran saat dia menghilang tiba-tiba.
Nafasku memburu tak beraturan. Mukaku memerah. Bukan karena rasa malu atau sesuatu yang membuat hatiku tergelitik. Aku marah. Aku kesal. Aku kecewa. Semuanya campur-aduk menjadi satu. Lebih menyakitkan dari apapun. Karena semuanya terlalu sulit untuk digambarkan dengan kata-kata.
Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Melampiaskan semua emosi yang terpendam dibagian yang paling tak teraba. Berusaha menghilangan sebuah realita kejam yang sangat menyiksa. Kenyataannya memang sangat sulit. Semuanya seperti video digital yang memaksa untuk diputar. Yah, aku trauma. Aku trauma dengan kejadian yang beberapa saat lalu ku alami.
Aku memungut kerikil yang berada tak jauh dari kursi rodaku. Melemparkannya ketengah danau. Selalu ada emosi dalam setiap lemparan yang ku lakukan. Aku terus melempari kerikil-kerikil itu sembari berkeluh kesah. Memarahi barisan awan sore yang hanya bisa menatapku iba. Menyalahkan garis-garis takdir yang terjadi atas diriku. Kecelakaan yang menimpaku memang berakibat fatal. aku kehilangan kedua kakiku dan yang lebih tragis, orangtua ku juga harus tewas dalam kecelakaan naas itu.
Perlahan tapi pasti bulir-bulir air mata mulai berjatuhan. Menetes tak menentu. Menghambur ke segala arah tanpa bisa ku tahan. Aku menghirup udara dengan kuat. Berharap sesak yang kurasa saat ini bisa berkurang. Namun, justru sebaliknya. Air mata itu turun lebih deras. Bahkan sekarang dengan isakan-isakan kecil yang membuat suasana sore ini semakin pilu. Angin sore yang berhembus pelan seakan menambah kepiluan di sore yang –menurutku- tak bermakna ini.
“Air mata memang bukan ditujukan untuk mengetahui bahwa seseorang itu lemah. Airmata merupakan suatu kepuasaan saat seseorang berhasil mengeluarkannya. Menangislah sepuasnya kalau itu bisa membuatmu tenang.” Ucap seseorang. Suaranya terdengar lembut namun penuh ketegasan. Membuat aku bergidik saat mendengarnya.
                Segera kutolehkan wajah kearahnya. “Tolong jangan pernah mencampuri urusan orang lain. Kamu tak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupmu.” Ucapku dengan nada sinis dan dingin.
                Ku lihat dia tersenyum. “Aku tak bermaksud mencampuri urusanmu. Tapi jangan pernah berpikir kalau kau akan menjadi Vega.” Ucapnya dengan sarkatis. Tunggu! Darimana dia tahu? Siapa dia?
                “Darimana kau tahu aku ingin menjadi Vega? Itu hak ku! Kau tak perlu mencampuri apalagi mengaturnya!” Aku membentaknya cukup keras dan dia masih saja tersenyum. Memperlihatkan kedua lesung pipi nya yang menawan.
                “Vega. Bagian dari Summer Triangle berlambangkan harpa milik Orfeus. Ketika Orfeus mati, tak ada yang bisa membuat harpa itu bermusik lagi. Apa kau bersungguh-sungguh ingin seperti vega? Kau sudah kehilangan kakimu dan kau ingin hidup dalam kebisuan? Kau memang tak pandai bersyukur!” Nada suaranya terdengar sangat datar. Tapi bagiku, itu suatu ejekan secara halus. Aku terkesiap. Dia berhasil menebak apa yang ku pikirkan selama ini.
                “Kau tahu? Aku lebih ingin menjadi Phoenix.” Ucapku menerawang. “Tapi keadaan memaksaku untuk menjadi Vega.” Aku menunduk. Pandanganku tertuju kepada kakiku yang berbalut gips.
                “Hidup memang selalu penuh pilihan. Hanya kau yang bisa menentukan antara menyerah atau bertahan. Lagipula Eridik selalu menemani Vega bukan? Mengapa Vega tetap bisu?” tanyanya lagi dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya.
                “Seandainya aku memilih bertahan sekalipun, dunia tak akan mungkin bersahabat denganku. Aku sudah tak punya siapa-siapa. Itu yang menyebabkan vega tetap bisu. Eridik memang selalu ada untuk Vega tetapi hanya Orfeus tempat Vega berkeluh kesah.” Aku menjawab dengan sangat yakin karena memang itulah yang terjadi padaku. Dia sama sekali tak membalas. Kulihat dari tatapan matanya dia sedang berpikir keras. Entah apa yang dia pikirkan.
                “Kau tahu Beethoven?” Tanyanya lagi setelah lama terdiam.
                Aku menghela nafas sejenak. “Aku hanya tau dia seorang instrumen klasik dengan fur elise-nya.”
                “Kau menyukai fur elise? Kalau Mozart?” Dia bertanya lagi.
                “Tentu saja! Fur Elise adalah instumen terhebat yang pernah ku dengar.  Wolfgang Amadeus Mozart. Hanya itu yang berhasil kuketahui.”
                “Fur Elise. Kau tahu kisahnya?” Dia tampak bersemangat sekali.
                “Tidak. Memang apa yang menarik dari Fur Elise?” tanyaku kepada dia. Ku lihat dia tersenyum. Menghela nafas lalu mulai bercerita.
                Inilah versi singkatnya. Ludwig Van Beethoven. Beliau lahir di Bonn, 16 Desember 1770 dari kebangsaan Vlam-Belanda. Fur elise adalah satu dari sekian banyak karya beliau yang sangat familiar bagi pecinta musik klasik. Fur elise sendiri menceritakan tentang perjalanan cinta Beethoven yang lumayan tragis. Kasih tak sampainya kepada seorang wanita yang tak satu orangpun mengetahuinya. Dengan kata lain, fur elise adalah curahan hati beethoven.
                Dia terus saja bercerita tentang siapa Beethoven sebenarnya. Saat berumur 4 tahun, Beethoven memang sudah disiapkan untuk menjadi penerus Mozart. Sampai dia dicaci-maki oleh masyarakat sekitar yang menganggap Beethoven dan keluarganya terlalu berambisi untuk bisa menjadikan beliau seperti Mozart. Namun akhirnya, ambisi itu tercapai. Beethoven sudah mendunia bahkan namanya di setarakan dengan Mozart. Perbedaan mereka hanyalah dalam masalah pembawaan intrumen-instrumen itu. Mozart selalu terlihat tenang saat mengaplikasikan karya-karyanya dengan piano contohnya Lacrimosa. Sementara Beethoven lebih ekspresif. Terlihat dari karya-karyanya seperti Troy Stetina, sonata, benedictus dan simfoni kesembilan (karya Beethoven yang tidak sempat beliau lanjutkan, karena ia lebih dulu wafat).
                Aku memperhatikan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulutnya. Memaknai apa yang sebenarnya akan dia sampaikan melalui perandaian seorang Mozart dan Beethoven. Sampai akhirnya aku menyerah. Aku benar-benar tak mengerti apa maksudnya. Dia terlalu sulit untukku tebak. Aku menggedikkan bahu dan menolehkan wajahku ke arahnya. Ku perhatikan sosoknya dengan teliti. Seorang laki-laki berparas tampan dengan kedua lesung pipi yang menawan. Wajahnya memancarkan sinar bahagia sembari menatap sang mentari yang akan kembali ke peraduannya.
                “Jadi apa maksudmu menceritakan itu semua?” Tanyaku kepadanya yang masih asyik menatap sang senja.
                “Aku hanya ingin kau menjadi Phoenix. Bintang yang penuh kehangatan atau menjadi seperti Beethoven. Seorang yang ambisius guna mencapai apa yang dia cita-citakan. Beethoven yang sangat cinta terhadap musiknya.” Katanya tanpa menoleh kearahku.
                “Aku tidak bisa bermain musik.” Aku memberikan sebuah pernyataan.
                “Kau bisa bermain piano bukan? Atau kau masih trauma?” sentaknya.
                Aku terdiam. Dia mengetahui semuanya. Lebih dari apa yang ku bayangkan. Dia tau aku bisa bermain piano dan aku trauma dengan benda itu. Semuanya terlalu sulit dicerna dengan akal sehat bahkan aku berharap semua ini hanya mimpi.
                “Ku rasa kau terlalu banyak tahu tentangku. Siapa kau sebenarnya?” Dengan segala keberanian yang ada aku bertanya kepadanya. Tersendat-sendat dan sangat gugup.
                “Davidio Daniel. Davi. Kalau kau?” Ujarnya sembari memutar kursi rodaku kearahnya. Merendahkan tubuhnya dan menyunggingkan sebuah senyuman.
                “Ferisha queenita. Risha.” Aku mengalihkan pandanganku. Matanya terlalu indah untuk dipandang. Penuh dengan kelembutan dan ketenangan namun tetap ada ketegasan didalamnya.
                “Rish, aku harus pergi. Maaf.” Dia terlihat sangat terburu-buru. Berlari dengan cepat dan menghilang di ujung jalan. Aku memasang wajah bingung. Tak mengerti dengan apa yang baru saja ku alami. Semua terasa mimpi namun faktanya itulah yang kualami.
                Lacrimosa milik Mozart yang tadi kumainkan berganti dengan Sonata no. 03 milik Beethoven yang ber-Requiem in C mayor. Sampai saat ini aku masih berusaha mencari identitas Davi. Sayang, masyarakat sekitar sana tak ada yang mengenal seorang lelaki bernama Davidio Daniel. Pernah aku berpikir bahwa dia hanya halusinasi, tapi apa mungkin? Dia terlihat begitu nyata.
                “Tak usah diambil pusing Rish. Seperti yang tante bilang tempo hari,  Davi itu malaikat penolong yang dikirim Tuhan buat nyadarin kamu waktu itu. Ya kalau kamu sulit buat percaya itu semua anggap saja begitu.” Tante Rena menyeruak masuk dari balik pintu. Menghentikan permainan jari-jari licahku diatas grand piano ini.
                “jadi dia malaikat?” tanyaku kepada Tante Rena. Beliau tak menjawab, hanya mengangkat bahu dan tersenyum misterius. Meninggalkan aku dengan sejuta pertanyaan yang semakin bercabang.

- TAMAT-








Senin, 05 Desember 2011

SENJA (myLife)

“fy, lo mau apa?” sahut dayat dari kios mie ayam. Aku tak menyahut, hanya mengacungkan dua jariku. Ibu jari dan jari telunjuk. Samar-samar ku melihat dayat mengangguk. Tampaknya dia paham lalu mengcungkan ibu jarinya juga.
Aku memang memiliki beberapa tanda-tanda khusus yang memudahkan aku berkomunikasi dengan orang lain tanpa suara. Untung sahabat-sahabatku mau mengerti kalo aku termasuk orang yang sering ‘males bicara’.
“eh kak, tambah akrab aja sama kak Dayat.” Seru goldi tiba-tiba. Aku segera memutar wajahku menghadapnya. Memasang wajah kurang suka.
“gimana gak akrab? Dari kelas 10 sekelas terus. Tahun ini di pisah tapi tetap aja kelasnya sebelahan. Dia enak di ajak curhat juga. Bakat jadi tong sampah tuh.” Jawabanku membuat goldi terbahak. Sementara rio hanya asik dengan dunianya. Tapi, aku melihat senyum tipisnya. Walau samar. Tapi matanya nampak berbinar.entah kenapa.
“oh gitu,bagus deh! Tuh yo, kak ify sama kak dayat gak ada apa-apa. Eh ups!” goldi menutup mulutnya sendiri. Kulihat rio menatap goldi tajam sementara aku hanya menatap mereka berdua dengan wajah sedikit kaget namun juga menyiratkan kebingungan.
“maksudnya?” tanyaku kemudian. Mencari sebuah jawaban sekaligus menghapus kebisuan yang saat ini menyelimuti.
“bukan apa-apa.” Itu suara rio. Sedikit serak dan sangat dingin. Dia sepertinya jarang berbicara. Atau memang dia begitu saat bersamaku saja?
“oh.” Jawabku singkat. Tak mau memperpanjang karena suaranya yang sedikit menyeramkan.
“nih fy!” seru dayat tibatiba. Satu tangannya memba wa semangkuk mie ayam dan yang satunya membawa semangkuk soto ayam. Sama-sama berbahan dasar ayam.
“thanks day,beliin gue teh manis ya. Maksud gue es teh manis hangat gak pake gula.” Sambarku lagi. kulihat dia merengut dan mendelikkan matanya. Aku ngakak sekali lagi.
“ah bacot lo. Udah teh manis hangat aja. Masih pagi Ify, nanti batuk.” Ucapnya dengan sedikit menggodaku. Mengedipkan sebelah matanya lalu memesan teh manis. Apa-apaan intu anak satu, genitnya sering nyebar kemana-mana.
“Lebih parah mana ya sama elo. pagi-pagi makan mie ayam sausnya seember.” Aku menepuk jidatku sendiri. Lagi dan lagi Goldi hanya bisa ngakak sambil meneruskan  makanannya. Sementara  yah, aku tak perlu menjelaskan bagaimana dia kan?
“maksud lo fy? Lagian gue gak mungkin beli ayam teriyaki atau kepiting saus hijau kan?” dayat, dayat!  Dikira ini kyuHai resto tempat makan kesukaannya dia-_-
“iya serah lo yg jelas gue mau makan. Jangan berisik!” sentakku yang langsung membuat mereka diam.
Kami pun makan dalam diam. Sampai makananku habis,aku sama sekali tak bicara. Sudah aku sebutkan tadi, kalau aku malas bicara. Jadi bicaraku tergantung mood.
***

Hari senin kembali datang. Dan minggu ini adalah minggu sibuk karena aku UTS. Sebenarnya telat satu minggu jika disesuaikan kalender tahunan yang dibagikan sesudah kenaikan kelas. Tapi ada beberapa masalah internal disekolah, jadi terpaksa sekolah mengundurnya.
Mataku menatap awas. Tetap menyusuri lorong koridor dilantai tiga. Mencari ruang delapan ternyata tidak mudah.
“AREN!” teriakku begitu melihat aren. Salah satu temanku. Aku mengenalnya saat kelas X dan waktu kelas XI kami sekelas. Lalu dipisahkan kembali saat kelas XII ini.
“apa fy?” tanya nya singkat.
“ruang delapan dimana?”
“lo di delapan?di  Kelas XII-8 lah. Ehiya Dayat di ruang 9 kan? Di XI-6. Sebelahan, kalo ketemu titip salam ya.” Katanya lagi. sedikit informasi, Aren itu mantannya Dayat. Mereka jadian hanya 2 Minggu dan Putus 5 hari yg lalu. Saat mereka putus aku sempat memarahi dayat karena hanya mempermainkan Aren. Bahkan sekarang, Dayat sudah mempunya pacar baru. Adik kelas kami. Aku mengenal pacar barunya, dia itu tak lebih dari perempuan penjilat. Itu menurutku dan teman-temanku.
“jadi masih ada rasa sama si day? Semoga mereka cepat putus deh. Nanti gue comblangin lagi, oke?” aku menggodanya. Ku lihat wajahn ya memerah menahan malu.
“apaan sih? Cupstaw banget ya fy. Udah ah gue balik, oh iya gue seruangan sama rio loh!” dia menggodaku? Maksudnya? Memang ada apa aku sama rio? Dasar aneh!
Dia sudah kabur masuk kekelasnya. Aku mendengus kesal. Pasti ini ulah shilla. Awas kalo nanti ketemu!
Kemudian aku berlari kecil  menuju ruang delapan. Berarti aku duduk dengan kelas XI-4. Ataga! Shilla sekelas dengan Risky dong? Adik kelasku yang lucu pake super didepannya. Ah bisa abis nih! Envy berabad-abad.

Mungkin inilah rasamya, rasa suka pada dirinya

Handphone-ku berbunyi nyaring. Itu tanda ada sms masuk. Pagi-pagi dari siapa ya?

From: 083872428055
Kak Ify, ruang berapa?
-
To: 083872428055
Delapan, ini siapa ya?
-
From: 083872428055
Ini risky kak. Yah, kalo temen kakak diruang tujuh absen 14 siapa?
-
To: 083872428055
Cakka. Kamu di ruang tujuh ky? Seruangan sama Shiila dong?
-
From: 083872428055
Gak tau kak. Emang iya?
-
To: 083872428055
Iyalah. Udah ya kapan-kapan lanjut.
-
From: 083872428055
Sipp kak! J
-
Aku menyudahi acara smsan dengan Risky. Sampai tak terasa sudah sampai dibangku ku. Aku segera membanting kecil tas ke atas meja. Duduk dan mengutak-ngatik handphone-ku. Aku mengecek List BBM. Ah.. sepi. Off lah.
Dikelas hanya ada aku dan beberapa anak kelas XI. Fiuh! Emang dasar ya anak kelas XII-nya makin lama bukan rajin jadi pada jualan karet semua-_- efek berangkat bareng Papa gini nih! Pagi banget. Tapi tak salah sih,  jam tanganku menunjukkan jam enam kurang lima manit. Ah pantas.. anak kelasku kan hobbynya datang 10-5menit sebelum bel.
Bosan! Aku merogoh tas dan mengeluarkan sebuah headsheet. Memasangnya pada handphone-ku lalu mencari lagu yang pas.


Tuhan tolong aku, ku tak dapat menahan rasa didadaku
Ingin aku memiliki, namun dia ada yang punya
Tuhan bantu aku ternyata dia kekasih sahabatku
Entah apa yang harus ku katakan hatiku bimbang jadi tak menentu

Aku menggumam kecil. Sebenarnya aku tak sedang mengalami jatuh cita pada pacar sahabatku, atau dilema seperti judul lagu itu. Ini semua efek dari kebiasaan anak-anak kelasku yang suka menyanyikan lagu tersebut. Menggoda si Sion yang ‘gosipnya’ menyukai lagu tersebut. Ya tuhan! Bocah rocker itu bisa galau? –“

‘ aku jatuh cinta kepada dirinya, senyumnya dan segala gerak-geriknya’ senandung seseorang yang berada dibalik pintu. Begitu dia menampakkan wajahnya aku mendengus pelan. Ah sudah kutebak, itu suara Riko. Ketua kelas abal paling nyebelin seantero dunia.

“RIKOOOOO BERISIK !!” ucapku padanya. Dia menghentikan aktifitasnya menyanyikan lagu yang tak ku kenal itu.
“ah sabodo! Gue lagi ngapalin lagu HVJ yang baru tau!” ucapnya. Aku segera mematikan musik yang sedaritadi mengalun melalui hapeku. Melepas kasar headsheet dan berjalan cepat ke arahnya.
“HVJ udah ngeluarin single kedua? demi apa? Punya lagunya gak? Bluetooth dong!” sambarku seketika. Histeris seperti biasa.
“santai kali, gue gak punya. Wong mereka belum selesai rekaman. Nanti kalo punya gue bagi deh!”
“iyaiya deh serah lo~ eh iya mau ngerjain sion lagi gak? Gue ada ide nih!” kataku cepat dan lumayan pelan. Takut didengar orang lain.
“ah iyadeh mumpung lo punya ide. Apan idenya?” riko gtampak bersemangat. Kalo masalah ngerjain ginisih siapa juga yg gak semangat?
“hari ini yang ngawas pak Ony! Kita suruh aja si Sion joget CherryBelle didepan. Minta bantuan Pak Ony juga.” Kataku pada Riko. Ku Lihat mata Riko berbinar.
“ahh BRILIANT! Keren sumpah! Nanti gue bilang sama pak Ony deh.”
“oke sipsip!”

***
“Sion, maju ke depan sebentar!” suruh pak Ony pada sion yang nampak sudah bersantai. Berarti dia udah selesai? Fiuh! Rencana baru dimulai.
“ada apa pak?” kata Sion pada pak ony. Aku menoleh ke arah Riko yang tempat duduknya tak begitu jauh. Kulihat dia terkikik kecil.
“kamu nyanyi lagunya cerrybelle didepan. Pake joget-jogetnya juga.” Kata Pak ony lagi yang seketika membuat aku dan anak-anak sekelas menahan tawa.
Sion menatap aku dan riko secara bergantian. Melotot tanda dia tahu ini rencanaku dan riko. Dengan senyum polos dan muka dibuat prihatin aku hanya mengangkat bahu sambil melambaikan tangan. Tanda aku tak tahu dan mencoba menennagkannya dari jauh. Tapi tetap saja, bagi sion itu terlihat meledek.
“yah pak! Bisa turun harkat martabat harga diri dan segala kegantengan saya pak!” seru sion dengan muka memelas. Semuanya sudah tak bisa menahan tawa lagi. diawali riko yang tertawa kencang, lalu aku dan yang lainnya. Sion mendelik. Ah Riko bodoh! pasti Sion sudah curiga sama aku dan Riko. Eh sudah daritadi deh!
“lakukan atau bapak sobek LJK kamu.” Aku tau Pak Ony bercanda. Tapi nampaknya Sion tak mengetahiu itu. Dia mulai bernyanyi dan mempraktikan gerakkan GirlBand CB. Tawa semakin meledak dari penjuru kelas. Satu lagi rencana sukses! Yeah!
Selesai bernyanyi, tawa masih saja membahana. Tapi diiringi tepukan tangan heboh. Sementara sion masih saja merengut. Dia mengacungkan jari telunjuknya ke arahku sambil berkomat-kamit. Aku tau dia mengancam, tapi tak serius. Aku membalasnya dengan lambaian tangan dan senyum polos. Sungguh tak akan kulupakan!

***

Aku senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi pagi.  Anak kelasku memang sering mengerjai SION. Tak sampai keterlaluan lah.sebatas ledekan saja, dan ku akui tadi siang yang paling parah. Walau ada rasa bersalah, sion tidak marah sama sekali. Tapi untuk menebusnya aku sepakat untuk membantunya saat UTS besok.

Drrttt..

Getaran dari handphone-ku membuatku tersadar dari lamunan. Ada satu sms.

From: 087878084798
Kak ify   ʅ(   ͝  °   ͝  )ʃ

Yatuhan! Kenapa banyak sekali sms dari nomer yang tak ku kenal?

To: 087878084798
Iyaa J ini siapa ya?

From: 087878084798
Dika kak J

Aku ternganga seketika. Hapeku terjatuh. Untung dikasur! Bisa habis kalau tidak. Tadi siapa yang sms? RIO? Mau apa dia?

To: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Emm.. kenapa yo?

From: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Enggak apa-apa kak J save nomerku ya

To: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Iya sip! J

From: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
UTS di ruang berapa kak?

To: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
8, kamu?

From: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
6 kak J duduk sama siapa?

To: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Gak tau namanya –“

From: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Iyadeh kalo yang famous sering lupa :D

To: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Enggak gitu juga kali-_- eh iya enggak usah panggil kakak kali yo, ify aja. Pake gue-elo juga gak apa-apa

From: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Emm iyadeh fy ehehe

To: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Yo, ko lo orangnya dingin gitu ya?

From: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Kalo sama orang yang gak dikenal emang gitu

To: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Lah sama gue?

From: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Kan gue udah kenal dari MOS. Terus kata Goldi lo orangnya asik. Yaudah.

To: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Oh jadi lo dapet nomer gue dari goldi ya?

From: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Iya fy, gapapa kan?

To: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Gapapa sih. Udah dulu ya, mau belajar nih! Byee

From: Rio  ʅ(  ̆ₒ   ̆)ʃ
Iyaa J tidurnya jangan malem-malem ya J  GoodNite

***

HARI ULANG TAHUN TARUNA INTERNASIONAL SCHOOL

“IFY!!”  aren langsung memelukku tiba-tiba. Entah kenapa, ada yg aneh dengannya.
“kenapa lo ren? Sakit? Atau naksir sama gue? Oh NO!!” aku melepaskan pelukan aren, menatapnya dan mengedikkan bahu.
“kampret! Ya enggaklah! Lo kira gue lesbi? Lo sama shilla kali tuh!”
“oh masa? Aduh gak percaya nih ! aw ahahha”
“iya deh serah lo, serah lo intinya gue bahagia.” Aren berputar-putar layaknya orang gak waras menciumi hapenya dan memeluk hapenya erat -_-‘
“bododeh! Gue kekelas ya? Hari ini freeclass loh! Kan sekolah tercinta ulang tahun haahah” aku segera berbelok menuju kelas ku. Kelas Aren dan kelasku memang tidak begitu jauh.  Hampir bersebelahan, kenapa hampir? Karena kelasku dan aren tidak menyatu, ada koridor yang menghalanginya. Aren terlihat masih memeluk dan menciumi hapenya, fuh itu anak kadang-kadang memang suka rada ;ehm; gak waras._.

***
Cintaaa akan ku berikan bagi hatimu yang damai, cintaku gelora asamara seindah lembayung senja. Tiada ada yang kuasa melebihi nikmatnya indah bercintaaa~
Senandung angel, sang vokalis HVJ membahana memenuhi satu penjuru sekolah.  
Suaranya yang khas dan rupanya yang memang lumayan, menjadikan dia salah satu mpst wanted di sekolah. Sayangnya angel sama sekali tidak perduli dengan itu semua. Pastinya sudah ada yang mengisi hatinya, kata dia sih temen gerejanya. Tapi gak mau dia publish, beuh angel ada-ada aja ahaaha.
***

Zevana’s party

Hari ini aku bersiap-siap datang ke birthday party-nya zevana. Dengan pakaian dan aksesories bernuansa ungu. Baju putih bertuliskan ACHT-EINS, cardigan ungu, celana pensil hitam, sepatu ungu. Aku dan teman-teman yg lain janjian di Mcd yang tak jauh dari komplek kami.

“aduh ren, lo dimana? Gue sama yg lain udah lumutan nuggu nih! Sivia sudah di Mcd.” Ucapku pada aren via telpon.
“abang gue lemot nih! Naik motor lama banget.” Jawabnya dengan suara yg lumayan kencang.
“yaudah deh, lo langsung ke Mcd aja ya. Kasian sivianya nunggu lama. Dia sendiri soalnya, alvin masih sama gue dan yg lain.”  Kataku lagi.
“ah yaudah terserah lo. Gue langsung aja deh.”
“okesip! Ketemu disana ya ren.”

Tuuutt... tuutt... tanda sambungan sudah diputus.

“gimana fy? Aren langsung?” tanya zevana.
“iya, kita langsung juga. Jalan day!” suruhku pada dayat yg bertudag menyetir mobil.
“okeoke siapkan sabuk pengaman, gue mau ngebut ahaha.” Dayat tertawa keras.
-
Mcd

“eh kenal mario-mario itu gak? Anak kelas berapa sih dia?” tanya oik pada aku dan yang lain.
“aduh oik ko lo lemot sih? Ini gue sama aren lagi ngomongin si rio. Dia XI-3,”
“ohh.. jadi rio-rio yang lo omongin itu mario toh? Gue gak tau kan.” Oik menyeringai Lebar. Menunjukkan deretan gigi putihnya.
“iya.. rio yg deket sama gue itu! Eh.. ups!” aren langsung menutup  mulutnya. Aku sedikit kaget dengan perkatannya. Semua mata menatap ke arahku. Terlagi shilla yang menatapku iba. Entah sejak kapan, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda dengan rio. Shilla jelas mengetahiu hal itu, tapi yang lain?
“ ko lo bisa deket sama dia ren?” tanya oik mewakili satu dari setiap pertannyaan yang muncul dibenakku. Sanggup tak sanggup aku harus mendengarkannya.
“iyalah, dulu waktu UTS kan gue seruangan ik, terus waktu itu dia minta nomer gue di twitter. Gitu deh.” Sahut Aren santai. Masih saja asik menatap hapenya. Entah apa yang dia lakukan.

FAKTA NF! (about NineFourCe)

1.       Ketua kelas (Renanda Aditya a.k.a Peyang) ngebentuk PeyangLovers sebagai fansclubnya. Karena anak-anak kelas pada bikin fansclub juga. Contoh: CiptoSetia, KesumVers, dll.
2.       Dikelas Rahmat sering digodain karena suka lagu CherryBelle yg Dilema
3.       Dikelas, anak cewek yang paling alim itu Zahra Aulia
4.       Kalo anak cowoknya Indra Bayu atau Ibay yg biasa dipanggil professor._.
5.       Afifa Diana Putri biasa dipanggil uang kas gara-gara jadi bendahara. Etapi ko bari gak ya? Diakan juga bendahara?—‘
6.       Qhoirunnisa Rahardja Dianti dipanggil Bu Zur gara-gara dia jadi tutor MTK
7.       Cipto gak seneng lagu Armada yang “pemilik hati” makanya kalo anak-anak pada nyanyi itu dia kabur keluar kelas
8.       Orang yg paling blak-blakan dan super cool dikelas itu Bari
9.       Hasna dipanggil Melinda Dee sama gue dkk gara-gara ‘sesuatu’ ahaha
10.   Walikelas 94 itu ibu Hj. Ina Nuryanti :0
11.   Gue sama hasna paling seneng godain si Rahmat, mukanya kocak
12.   Kesyum atau yang biasa dipanggil mesum sok misterius banget gara-gara satu kelas gak ada yg tau ultahnya
13.   Yang biasa disuruh-suruh sama anak kelas itu aditya wk
14.   Ada yg sempet kena cinlok loh~waktu kerja kelompok b.ingg. si hasna-bari sama ayu-adit
15.   Setiap bikin kelompok, kalo anggotanya cewek-cowok, gue, hasna, laras, bari dan maul tak terpisahkan
16.   Cipto paling seneng godain Laras gara-gara hidungnya laras yang ;ehm; mendelep._.
17.   Sebutan celengan babi itu dari bari buat Laras. Abis kata bari, laras itu kayak celengan (?)
18.   Hampir semua anak cowok dikelas gue, pasti bokep! OMG ~
19.   Kata peyang, si Rahmat itu rambutnya kayak Ariel Peterpan tapi mukanya kayak Brandon._. *gakpercayague—‘*
20.   Hasna-Maul sering gombal-gombalan dikelas
21.   Dikelas, pak harder nyebut ‘pastel’ itu KUE KEONG .-.
22.   Si hugo itu sering banget mainan hape dikelas
23.   Cipto paling jago ngegombal
24.   Dikelas gue, si peyang, cipto, sama maul pernah dapet uang dari Pak Mustofa gara-gara sering nyanyi didepan kelas
25.   Anak kelas paling ngocol kalo pelajarannya Pak Mustofa
26.   Anak kelas gue sangat amat sesat, tapi nilai agamanya bagus-bagus._.
27.   Cipto pernah ngukur diameter hidungnya Juan sama Laras. Ngebandingin yang kelebihan sama yang kekurangan wakak
28.   Sepatunya maul pernah di sita sama Bu Deliana
29.   Guru paling bokep itu Pak Erwin rawr!
30.   ciptoSetia udah ganti nama jadi CiptoHolic
31.   tanggal 1 nov 2011, gue sama anak-anak ngerjain pak Harder

harusnya kau pilih aku (oneshoot)

Kekasihmu tak mencintai
Dirimu sepenuh hati
Dia selalu pergi
Meninggalkan kau sendiri

*

Untuk kesekian kalinya aku melihat kekasihmu bersama orang lain. Bergelayut mesra pada lengan lelaki itu.  Lalu kemana dirimu? Bukankah biasanya kau selalu mengumbar kemesraan bersama gadismu? Mengapa bukan kau yang bersama gadis yang sedari tadi menarik perhatianku? Apa dia se..ling..kuh? ah tidak! Sunggu jika itu yang terjadi, aku tak akan memaafkan gadismu itu. Mengapa dia selingkuh? Apa dia tak sadar kau benar-benar sempurna? Sampai-sampai akupun ingin memilikimu. Ups.. yatuhan, kenapa rasa ini kembali sih! Sungguh aku tak suka. Sang penulis skenario ini benar-benar jahat. Mengapa dia tak membiarkan aku bahagia bersamamu? Apa yang salah dengan cara pemikiran sang penulis? Apa yang sedang ia rasakan sampai tega membuat kisah ini? Kisah pedih yang tak akan pernah aku lupakan. Tentang aku, kamu dan dirinya.

*

“Rio.. aku mohon dengar dulu. Aku tak bermaksud apa-apa. Sungguh...” aku terus berlari mengejarnya yang semakin menjauhiku. Rio.. aku hanya ingin kau sadar, gadismu bukan perempuan baik-baik.

“Apalagi sih fy? Elo tega yah! Sembarangan aja nge-judge sivia kayak gitu. Elo mau gue putus sama sivia? Terus gue jadian sama elo? Aih cara elo murahan!” yatuhan. Apa yang barusan dia katakan? Lututku langsung lemas tak kuat menopang tubuhku. Sang prahara itu mulai muncul dan itu sangat menyakitkan! Sungguh ini lebih menyiksa dari pada aku melihatnya bermesraan dengan gadis tak tahu diri itu.

“maksud kamu apa sih yo? Aku jujur. Dan aku udah beberapa kali mergokin dia sama cowok yang sama.” Aku memegang pergelangan tangannya. Berusa menahan dia agar mendengarkan penjelasanku.

“gue gak percaya sama elo! MURAHAN!” dia membentakku dan secara kasar menyingkirkan genggaman tanganku.

“terserah elo percaya atau enggak yo! Awas kalo elo nyesel. Dan inget GUE BUKAN MURAHAN !! SALAH YA KALO GUE SUKA, CINTA, SAYANG SAMA ELO? SALAH? MULAI SEKARANG GUE BENCI RASA INI !! KENAPA SIH GUE BISA SUKA SAMA ELO? KALAU SEANDAINYA BISA, GUE LEBIH MILIH MATI DARIPADA SAKIT HATI GARA-GARA ELO !! PUAS?? HAH? ELO PUAS??”  kulihat dia terpaku ditempat. Ah.. masa bodo! Yang penting sekarang aku harus mencari tempat untuk mengeluarkan emosi ku. Tempat menangis yang paling pas, taman sekolah!

*

Mengapa kau mempertahankan
Cinta pedih menyakitkan
Kau masih saja membutuhkan dia
Membutuhkan diaaa

*

Aku terkulai lemas dibawah pohon. Tiap tetes airmataku jatuh begitu deras,  benar-benar nakal. Mengapa kau tak bisa diatur? Ayoo berhenti. Sungguh tak lucu kawan! Setiap orang memandangku aneh. pagi-pagi sudah menangis, tak punya semangat hidup sekali aku ini. Hey sobat! Taukah kalian apa yang membuatku menangis pagi ini? Yap! Kalian benar! Dia sobat, rio.
Dia benar-benar tak peduli pada ucapanku. Buktinya? Aku melihatnya tengah merangkul mesra gadis itu. Gadis munafik itu. Kalian tau? Rasanya sangat menusuk sobat! Benar-benar menyiksa. Apa sih lebihnya gadis itu? Andaikan kau tahu betapa jahatnya dia. Apa kau masih berani memanggilku murahan? Itu terlalu menyakitkan rio. Aku tak seperti yang kau kira, ternyata gadis itu benar-benar membutakanmu. Dan gadis itu yang lebih pantas kau panggil MU-RA-HAN!!

*

“pagi dear, gak biasanya datang jam segini?” rio berucap seraya merangkul sivia. ucapan rio itu sungguh membuatku tak tahan. Yatuhan! Andai kau sadar rio! Dia jahat. Dia tak mencintaimu. Dia... ah...
“pagi juga dear, emang kenapa sih kalo aku datang pagi? Salah nih?” dengan manja gadis munafik itu mengerucutkan bibirnya. Kayaknya sih ngambek, tapi apa urusanku? Peduli apa aku dengannya? Kalau bukan karena rio, aku tak mau berurusan dengannya.

Candaan mereka terus berlanjut, sampai errghh aku muak! Benar-benar muak dengan topeng gadis itu! Andai aku bisa membuktikan semuanya, andai aku bisa membongkar betapa tak tahu dirinya gadis itu, andai... ah andai sajaaa...

*

Kau harusnya memilih aku
Yang lebih mampu menyayangimu
Berada disampingmu

*

Prahara yang terjadi sangat menyesakkan sobat! Rio benar-benar telah dibutakan oleh gadis itu. Hey tuan! Bisakah kau melihat aku disini? Aku yang sangat tulus mencintaimu. Kau memang jahat Rio! Sungguh! Tapi aku tak mampu menghapus rasa ini. Rasa yang menimbulkan sensasi yang sangat aneh. Getaran-getaran halus yang terus menggelitik.  Menimbulkan hal-hal yang menyenangkan sekaligus menyesakkan dan begitu menyiksa. Tuhan, tolong bujuk sang takdir! Aku mohon! Biarkan aku bahagia bersama rio.  Aku berjanji akan terus ada untuknya, berada disampingnya, memberi semangat lewat setiap kata dan sentuhan yang aku berikan.

*

“udahlah fy, rionya aja yang bego! Kalo gue jadi elo udah gue cakar-cakar muka dia.” Aahh apa itu? Mencakar-cakar muka rio? Apa aku tak salah demgar? Awas kalau dia berani.

“hey ganteng! Awas sampai kau berani melakukan itu. Aku akan menyiksamu lebih dari itu. Sungguh!” aku menatapnya tajam. Aku tau dia bercanda. Tapi itu sangat tidak lucu disaat seperti ini. Aku tahu dia berniat menghiburku. Tapi itu sangat-sangat tidak membantu.

“santai cantik! Alvin yang ganteng dan baik hati ini gak akan melakukan itu. Urusannya polisi sih, sereeemm!” dia mengatakannya dengan mimik yang sangat lucu. Kalau aku tak bersedih, yakin aku sudah tertawa berguling-guling di tanah. Lebay yah? Tapi mimik mukanya itu sangat lucuuuu. Andai kalian bisa melihat dia, aku yakin kau akan sependapat.


*
Kau harusnya memilih aku
Tinggalkan dia
Lupakan dia
Datanglah kepadaku

*

Lantunan do’a terus ku lafalkan untuk dirimu. Dan tentunya untuk sang parahara, berharap dia cepat pergi dari susunan skenario yang telah dibuat. Dan satu lagi! aku berdo’a agar kau segera mengetahui betapa jahatnya gadis yang selalu kau banggakan itu. Apakah aku terlalu jahat berdo’a seperti itu? Ah sungguh tidak. Hey sobat! Lebih jahat mana aku dengan gadis itu? Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan. Walaupun mungkin hanya sedikit, aku sangat berharap. Berharap tuhan mengubah susunan skenario itu. Berharap tuhan menghapus beberapa bagian dari skenario itu, dibagian aku selalu menangis dan tersiksa. Yah aku hanya bisa berharap. Harapan yang memang tak mungkin terjadi. Harapan yang dilindungi kata angan. Harapan yang sangat tidak mungkin.

Ah.. iya satu hal lagi. harapan terbesarku. Harapan yang rasanya tidak mungkin terwujud. Berharap menggantikan posisi gadis itu dihatinya. Menjadi sang ratu dihati seorang lelaki seperfect rio. Harapan, harapan dan harapan. Hanya itu yang bisa membuatku sedikit lebih baik. Terus berharap dan selalu...

*

Kau tak pantas tuk disakiti
Kau pantas tuk dicintai
Bodohnya dia yang meninggalkanmu
Demi cinta yang tak pasti

*

Sivia. Nama gadis itu. Gadis yang memunculkan prahara ini. Dia yang membuat rio –dengan tega- mengataiku murahan. Gadis itu, gadis munafik. Gadis tak tahu diri. Ahh sungguh  dia gadis jahat. Segala kecaman telah meluncur dengan indah dari mulutku untuknya. Tapi percuma, karena dia pasti tak mendengar. Aku memang tak cukup berani mengatainya didepan wajah.  Bukan pengecut, tapi pasti Rio selalu membelanya. Rio yang tak mengetahui kebusukan gadis itu. Aku menghela nafas kasar, apa sih lebihnya lelaki yang bersama sivia itu? Aku yakin bila di bandingkan dengan rio dia tak ada apa-apanya. Lalu mengapa sivia memilih lelaki itu?kau jahat sivia! KAU GADIS JAHAT! Mengapa kau berpikir lelaki itu lebih baik dari Rio?

Ah.. ku harap rio segera mengetahui tentang kebusukan gadisnya. Dia  yang tega menduakan Rio dengan lelaki yang tak jelas.  Aku berdo’a, terus berdo’a agar semua terbongkar. Sebelum rio terlambat dan menyesali semuanya. Dan sebelum penyakit laknat ini memaksaku pergi dari dunia ini. Apakah tuhan jahat? Sungguh aku tak pernah berpikiran seperti  itu. Tuhan tak sejahat itu, dia hanya meminta hambanya bersabar. Membiarkan hambanya menanti hal indah itu akan tergores di barisan takdir-takdir mereka. Tuhan pasti mempunyai alasan dibalik sebuah peristiwa. Dia yang maha kuasa. Sang pemilik rahasia dibalik rahasia.

*

Ya tuhan, bila ini memang waktunya. Aku siap. Sangat siap. Semoga mereka bahagia atas kepergianku. Dan mulai saat ini, semua harapanku telah terbenam. Terbenam bersama tanah yang menutupi jasadku. Aku telah terbang bebas. Menari diatas awan. Bermain bersama peri-peri langit. Dan yang pasti, aku bisa tersenyum. Tersenyum untuk dan karenamu. Mario.

*

Astagfirullahaladzim! Ini apa sih yaaa? Gak jelas gitu. Bahasanya rada kasar yah? Gak nyambung juga deh :33  jelek, ancur, gak bangeeeeeeeeetttttttttt gitu yaaa? Aduh maap deh. Tau banget ini cerpen emang maksa. Yang nulis lagi galau soalnya. Jujur aja yaaaa ini tuh sedikit pelampiasan dari penulis labil ini. Bingung kesana-kemari membawa alamat eh maksudnya mencari solusi buat meluapkan kekesalan gue sama ‘dia’. Errr nih buat cerpen buat elo yang sukses bikin gue galau gak berujung. Sampe-sampe gue sms sana-sini buat cari solusi.

Mau say thanks dan minta maaf juga buat kakak-kakak dan adek-adek dan siapa ajaaa yang mau dengerin curhatan gak jelas gue. Mau balesin sms gue, ngeladenin sifat manja gueee. BIG THANKS, BIG KISS, BIG HUG buat kaliaaaannnnnnn :* :* {}

Okedeh segitu ajaaa dari gue yaaa, minta LIKE dan KOMENTARNYAAAA yaaaaa. Kritik masih sangat diperlukan guys. Makasih J

Salam galauers :*


Piggy’s Cheek ({})