Instrument klasik Lacrimosa milik Wolfgang Amadeus Mozart memenuhi indera pendengaranku kini memaksaku untuk mengikuti sebuah alunan yang ber- Requiem In D Minor. Mataku terpejam. Semakin menghanyutkan diriku dalam symponi-sympohi yang dihasilkan barisan tuts-tus hitam dan putih ini. Dentingan nada-nada itu menghantarkanku kepada sebuah kejadian dimasa lalu. Kejadian yang sangat tragis dan menyedihkan bila diingat. Namun, semua lebih terlihat bermakna saat dia datang dan juga menimbulkan sejuta rasa heran saat dia menghilang tiba-tiba.
Nafasku memburu tak beraturan. Mukaku memerah. Bukan karena rasa malu atau sesuatu yang membuat hatiku tergelitik. Aku marah. Aku kesal. Aku kecewa. Semuanya campur-aduk menjadi satu. Lebih menyakitkan dari apapun. Karena semuanya terlalu sulit untuk digambarkan dengan kata-kata.
Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Melampiaskan semua emosi yang terpendam dibagian yang paling tak teraba. Berusaha menghilangan sebuah realita kejam yang sangat menyiksa. Kenyataannya memang sangat sulit. Semuanya seperti video digital yang memaksa untuk diputar. Yah, aku trauma. Aku trauma dengan kejadian yang beberapa saat lalu ku alami.
Aku memungut kerikil yang berada tak jauh dari kursi rodaku. Melemparkannya ketengah danau. Selalu ada emosi dalam setiap lemparan yang ku lakukan. Aku terus melempari kerikil-kerikil itu sembari berkeluh kesah. Memarahi barisan awan sore yang hanya bisa menatapku iba. Menyalahkan garis-garis takdir yang terjadi atas diriku. Kecelakaan yang menimpaku memang berakibat fatal. aku kehilangan kedua kakiku dan yang lebih tragis, orangtua ku juga harus tewas dalam kecelakaan naas itu.
Perlahan tapi pasti bulir-bulir air mata mulai berjatuhan. Menetes tak menentu. Menghambur ke segala arah tanpa bisa ku tahan. Aku menghirup udara dengan kuat. Berharap sesak yang kurasa saat ini bisa berkurang. Namun, justru sebaliknya. Air mata itu turun lebih deras. Bahkan sekarang dengan isakan-isakan kecil yang membuat suasana sore ini semakin pilu. Angin sore yang berhembus pelan seakan menambah kepiluan di sore yang –menurutku- tak bermakna ini.
“Air mata memang bukan ditujukan untuk mengetahui bahwa seseorang itu lemah. Airmata merupakan suatu kepuasaan saat seseorang berhasil mengeluarkannya. Menangislah sepuasnya kalau itu bisa membuatmu tenang.” Ucap seseorang. Suaranya terdengar lembut namun penuh ketegasan. Membuat aku bergidik saat mendengarnya.
Segera kutolehkan wajah kearahnya. “Tolong jangan pernah mencampuri urusan orang lain. Kamu tak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupmu.” Ucapku dengan nada sinis dan dingin.
Ku lihat dia tersenyum. “Aku tak bermaksud mencampuri urusanmu. Tapi jangan pernah berpikir kalau kau akan menjadi Vega.” Ucapnya dengan sarkatis. Tunggu! Darimana dia tahu? Siapa dia?
“Darimana kau tahu aku ingin menjadi Vega? Itu hak ku! Kau tak perlu mencampuri apalagi mengaturnya!” Aku membentaknya cukup keras dan dia masih saja tersenyum. Memperlihatkan kedua lesung pipi nya yang menawan.
“Vega. Bagian dari Summer Triangle berlambangkan harpa milik Orfeus. Ketika Orfeus mati, tak ada yang bisa membuat harpa itu bermusik lagi. Apa kau bersungguh-sungguh ingin seperti vega? Kau sudah kehilangan kakimu dan kau ingin hidup dalam kebisuan? Kau memang tak pandai bersyukur!” Nada suaranya terdengar sangat datar. Tapi bagiku, itu suatu ejekan secara halus. Aku terkesiap. Dia berhasil menebak apa yang ku pikirkan selama ini.
“Kau tahu? Aku lebih ingin menjadi Phoenix.” Ucapku menerawang. “Tapi keadaan memaksaku untuk menjadi Vega.” Aku menunduk. Pandanganku tertuju kepada kakiku yang berbalut gips.
“Hidup memang selalu penuh pilihan. Hanya kau yang bisa menentukan antara menyerah atau bertahan. Lagipula Eridik selalu menemani Vega bukan? Mengapa Vega tetap bisu?” tanyanya lagi dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya.
“Seandainya aku memilih bertahan sekalipun, dunia tak akan mungkin bersahabat denganku. Aku sudah tak punya siapa-siapa. Itu yang menyebabkan vega tetap bisu. Eridik memang selalu ada untuk Vega tetapi hanya Orfeus tempat Vega berkeluh kesah.” Aku menjawab dengan sangat yakin karena memang itulah yang terjadi padaku. Dia sama sekali tak membalas. Kulihat dari tatapan matanya dia sedang berpikir keras. Entah apa yang dia pikirkan.
“Kau tahu Beethoven?” Tanyanya lagi setelah lama terdiam.
Aku menghela nafas sejenak. “Aku hanya tau dia seorang instrumen klasik dengan fur elise-nya.”
“Kau menyukai fur elise? Kalau Mozart?” Dia bertanya lagi.
“Tentu saja! Fur Elise adalah instumen terhebat yang pernah ku dengar. Wolfgang Amadeus Mozart. Hanya itu yang berhasil kuketahui.”
“Fur Elise. Kau tahu kisahnya?” Dia tampak bersemangat sekali.
“Tidak. Memang apa yang menarik dari Fur Elise?” tanyaku kepada dia. Ku lihat dia tersenyum. Menghela nafas lalu mulai bercerita.
Inilah versi singkatnya. Ludwig Van Beethoven. Beliau lahir di Bonn, 16 Desember 1770 dari kebangsaan Vlam-Belanda. Fur elise adalah satu dari sekian banyak karya beliau yang sangat familiar bagi pecinta musik klasik. Fur elise sendiri menceritakan tentang perjalanan cinta Beethoven yang lumayan tragis. Kasih tak sampainya kepada seorang wanita yang tak satu orangpun mengetahuinya. Dengan kata lain, fur elise adalah curahan hati beethoven.
Dia terus saja bercerita tentang siapa Beethoven sebenarnya. Saat berumur 4 tahun, Beethoven memang sudah disiapkan untuk menjadi penerus Mozart. Sampai dia dicaci-maki oleh masyarakat sekitar yang menganggap Beethoven dan keluarganya terlalu berambisi untuk bisa menjadikan beliau seperti Mozart. Namun akhirnya, ambisi itu tercapai. Beethoven sudah mendunia bahkan namanya di setarakan dengan Mozart. Perbedaan mereka hanyalah dalam masalah pembawaan intrumen-instrumen itu. Mozart selalu terlihat tenang saat mengaplikasikan karya-karyanya dengan piano contohnya Lacrimosa. Sementara Beethoven lebih ekspresif. Terlihat dari karya-karyanya seperti Troy Stetina, sonata, benedictus dan simfoni kesembilan (karya Beethoven yang tidak sempat beliau lanjutkan, karena ia lebih dulu wafat).
Aku memperhatikan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulutnya. Memaknai apa yang sebenarnya akan dia sampaikan melalui perandaian seorang Mozart dan Beethoven. Sampai akhirnya aku menyerah. Aku benar-benar tak mengerti apa maksudnya. Dia terlalu sulit untukku tebak. Aku menggedikkan bahu dan menolehkan wajahku ke arahnya. Ku perhatikan sosoknya dengan teliti. Seorang laki-laki berparas tampan dengan kedua lesung pipi yang menawan. Wajahnya memancarkan sinar bahagia sembari menatap sang mentari yang akan kembali ke peraduannya.
“Jadi apa maksudmu menceritakan itu semua?” Tanyaku kepadanya yang masih asyik menatap sang senja.
“Aku hanya ingin kau menjadi Phoenix. Bintang yang penuh kehangatan atau menjadi seperti Beethoven. Seorang yang ambisius guna mencapai apa yang dia cita-citakan. Beethoven yang sangat cinta terhadap musiknya.” Katanya tanpa menoleh kearahku.
“Aku tidak bisa bermain musik.” Aku memberikan sebuah pernyataan.
“Kau bisa bermain piano bukan? Atau kau masih trauma?” sentaknya.
Aku terdiam. Dia mengetahui semuanya. Lebih dari apa yang ku bayangkan. Dia tau aku bisa bermain piano dan aku trauma dengan benda itu. Semuanya terlalu sulit dicerna dengan akal sehat bahkan aku berharap semua ini hanya mimpi.
“Ku rasa kau terlalu banyak tahu tentangku. Siapa kau sebenarnya?” Dengan segala keberanian yang ada aku bertanya kepadanya. Tersendat-sendat dan sangat gugup.
“Davidio Daniel. Davi. Kalau kau?” Ujarnya sembari memutar kursi rodaku kearahnya. Merendahkan tubuhnya dan menyunggingkan sebuah senyuman.
“Ferisha queenita. Risha.” Aku mengalihkan pandanganku. Matanya terlalu indah untuk dipandang. Penuh dengan kelembutan dan ketenangan namun tetap ada ketegasan didalamnya.
“Rish, aku harus pergi. Maaf.” Dia terlihat sangat terburu-buru. Berlari dengan cepat dan menghilang di ujung jalan. Aku memasang wajah bingung. Tak mengerti dengan apa yang baru saja ku alami. Semua terasa mimpi namun faktanya itulah yang kualami.
Lacrimosa milik Mozart yang tadi kumainkan berganti dengan Sonata no. 03 milik Beethoven yang ber-Requiem in C mayor. Sampai saat ini aku masih berusaha mencari identitas Davi. Sayang, masyarakat sekitar sana tak ada yang mengenal seorang lelaki bernama Davidio Daniel. Pernah aku berpikir bahwa dia hanya halusinasi, tapi apa mungkin? Dia terlihat begitu nyata.
“Tak usah diambil pusing Rish. Seperti yang tante bilang tempo hari, Davi itu malaikat penolong yang dikirim Tuhan buat nyadarin kamu waktu itu. Ya kalau kamu sulit buat percaya itu semua anggap saja begitu.” Tante Rena menyeruak masuk dari balik pintu. Menghentikan permainan jari-jari licahku diatas grand piano ini.
“jadi dia malaikat?” tanyaku kepada Tante Rena. Beliau tak menjawab, hanya mengangkat bahu dan tersenyum misterius. Meninggalkan aku dengan sejuta pertanyaan yang semakin bercabang.
- TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar